Awal bulan yang disapa dengan tanggal merah. Yakk, karena tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari Buruh Internasional..
Lagi-lagi cuman bisa
bilang “April, terima kasih banyak atas segala pelajaran berharganya”.
Banyak banget yang
terjadi di bulan April. Imbas dari bulan Maret yang benar-benar nggak pernah
terbayang sama sekali di hidupku.
Pada akhirnya di bulan
April kemarin, aku memberanikan diriku untuk bercerita kepada orang lain
tentang segala ungkapan hati yang nggak pernah berani aku ungkapkan.
Aku sakit namun tak berwujud,
Aku terluka namun tak berdarah, Lantas?
Bersyukur, Bahagia, Berdoa.
Hanya itu yang harus aku lakukan setiap
harinya..
Malaikat Tanpa Sayap
Ternyata pelukan
hangat dari orang yang peduli itu sangat menenangkan
Ternyata pujian dari
orang terdekat itu sangat membanggakan
Ternyata permintaan
maaf dengan ketulusan mampu menghapuskan segala amarah yang membara
Ternyata menolong
orang dengan kemampuan yang kita miliki itu bisa membahagiakan nurani
Ternyata ucapan terima
kasih dapat melepaskan beban rasa lelah yang telah kita rasakan
Dan ternyata, aku
hanya memerlukan itu semua.. Simple sekali bukan?
Siang itu, aku memilih
untuk mengikhlaskan segalanya. Aku memilih untuk memasrahkan segala rasa sakit,
amarah dan kecewaku hanya padaNya.
Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku,Dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku -Umar Bin Khattab-
Menghindar
Iya, menghindar..
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan insight mengenai diriku yang sebenarnya.
Bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa diubah meskipun kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Bahwa ada beberapa hal yang memang harus diikhlaskan meskipun hatimu nggak rela.
Hidup ini keras! Kalau kamu nggak berjuang, kamu nggak bisa bertahan.
Penyesalan yang sedang aku alami sekarang adalah, kenapa aku tidak bisa mempertahankan pilihan yang telah aku ambil..
Kenapa aku tidak bisa menjaga apa yang telah aku miliki..
Tembok Pembatas
-Aku punya keluarga, tetapi aku tidak tumbuh bersama mereka.
Kami memasing-masingkan diri, menjadikan rindu akhirnya menumpuk.
Kami tak seharmonis keluarga orang lain, tetapi harapan kami masih sama;
Semoga ada masa dimana kami bisa berkumpul dan merasakan hangatnya sebuah keluarga.-
Setelah menahan semuanya selama bertahun-tahun, akhirnya aku pun memutuskan untuk memberikan surat cinta itu kepadanya.
Tentang tumpukan rindu itu adalah tembok pembatas kami..
Tentang luka-luka yang sebenarnya perlu dirawat oleh orang lain..
Tentang pertanyaan dan ungkapan yang tak pernah terucap..
Tentang cinta yang terwujud dalam diam..
Tapi aku sadar, bahwa tembok itu tak bisa runtuh jika kami tak bekerjasama dalam merobohkannya.
Semoga,
Semoga cinta dalam diam yang selama ini terwujud tak disalah artikan..
Semoga pertanyaan dan ungkapan itu segera terjawab..
Semoga luka-luka itu segera sembuh..
Dan semoga rindu-rindu itu tak menumpuk agar segera berlabuh pada tempat yang tepat..
Hey May,
May be better than before
May be nice with me please
May Allah blessing us, Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar