Selasa, 09 Mei 2017

Hello May

Awal bulan yang disapa dengan tanggal merah. Yakk, karena tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari Buruh Internasional..

Lagi-lagi cuman bisa bilang “April, terima kasih banyak atas segala pelajaran berharganya”.
Banyak banget yang terjadi di bulan April. Imbas dari bulan Maret yang benar-benar nggak pernah terbayang sama sekali di hidupku.
Pada akhirnya di bulan April kemarin, aku memberanikan diriku untuk bercerita kepada orang lain tentang segala ungkapan hati yang nggak pernah berani aku ungkapkan.

Aku sakit namun tak berwujud,
Aku terluka namun tak berdarah, Lantas?
Bersyukur, Bahagia, Berdoa.
Hanya itu yang harus aku lakukan setiap harinya..


Malaikat Tanpa Sayap

Ternyata pelukan hangat dari orang yang peduli itu sangat menenangkan
Ternyata pujian dari orang terdekat itu sangat membanggakan
Ternyata permintaan maaf dengan ketulusan mampu menghapuskan segala amarah yang membara
Ternyata menolong orang dengan kemampuan yang kita miliki itu bisa membahagiakan nurani
Ternyata ucapan terima kasih dapat melepaskan beban rasa lelah yang telah kita rasakan

Dan ternyata, aku hanya memerlukan itu semua.. Simple sekali bukan?
Siang itu, aku memilih untuk mengikhlaskan segalanya. Aku memilih untuk memasrahkan segala rasa sakit, amarah dan kecewaku hanya padaNya.

Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku,Dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku -Umar Bin Khattab-

Sekarang ini, lagi menikmati masa-masa main bersama teman sejawat.
Ternyata main bareng mereka itu lebih dari menyenangkan, lebih dari seru, lebih dari asik, pokoknya itu berharga banget. Aku selama ini kemana ya? hahaha

Menghindar

Iya, menghindar..
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan insight mengenai diriku yang sebenarnya.
Bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa diubah meskipun kamu sudah berusaha sebaik mungkin. Bahwa ada beberapa hal yang memang harus diikhlaskan meskipun hatimu nggak rela.
Hidup ini keras! Kalau kamu nggak berjuang, kamu nggak bisa bertahan.
Penyesalan yang sedang aku alami sekarang adalah, kenapa aku tidak bisa mempertahankan pilihan yang telah aku ambil..
Kenapa aku tidak bisa menjaga apa yang telah aku miliki..

Tembok Pembatas


-Aku punya keluarga, tetapi aku tidak tumbuh bersama mereka.
Kami memasing-masingkan diri, menjadikan rindu akhirnya menumpuk.
Kami tak seharmonis keluarga orang lain, tetapi harapan kami masih sama;
Semoga ada masa dimana kami bisa berkumpul dan merasakan hangatnya sebuah keluarga.-

Setelah menahan semuanya selama bertahun-tahun, akhirnya aku pun memutuskan untuk memberikan surat cinta itu kepadanya.
Tentang tumpukan rindu itu adalah tembok pembatas kami..
Tentang luka-luka yang sebenarnya perlu dirawat oleh orang lain..
Tentang pertanyaan dan ungkapan yang tak pernah terucap..
Tentang cinta yang terwujud dalam diam..
Tapi aku sadar, bahwa tembok itu tak bisa runtuh jika kami tak bekerjasama dalam merobohkannya.

Semoga,
Semoga cinta dalam diam yang selama ini terwujud tak disalah artikan..
Semoga pertanyaan dan ungkapan itu segera terjawab..
Semoga luka-luka itu segera sembuh..
Dan semoga rindu-rindu itu tak menumpuk agar segera berlabuh pada tempat yang tepat..

Hey May,

May be better than before
May be nice with me please
May Allah blessing us, Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...