Jumat, 26 Mei 2017

Rumah

Marhaban yaa Ramadhan
Selamat datang bulan Ramadhan
Terimakasih masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali denganmu..


Ayah 


Selamat malam Ayah..

Bagaimana kondisi ayah? Apakah ada perkembangan dari kemoterapi kemarin?
Aku harap ayah selalu baik-baik saja..
Aku percaya ayah pasti kuat :)

Aku masih merasa ini semua seperti mimpi.
Apakah semua yang telah kulalui ini nyata ?
Ataukah ini hanyalah ilusi yang ada dalam anganku?

Ayah,
setelah kejadian malam itu, aku tak pernah menyangka cerita kita akan menjadi seperti ini.
Bukankah dahulu aktivitas yang kita lalui begitu menyenangkan?
Bukankah aku adalah anak yang sangat menurut pada semua aturan yang ada dirumah?
Bukankah aku adalah anak yang baik?
Lantas mengapa ayah tega meninggalkan aku sendiri di kala aku sedang membutuhkan bimbinganmu?

Saat itu, aku masih belum paham benar tentang arti perpisahan..
Ketika ayah pergi tanpa menyisakan sepenggal kata, aku hanya bisa meratapi kehilangan..
Kehilangan yang amat sangat besar, hingga aku tak sanggup meneteskan airmata..

Ada begitu banyak hal-hal yang ingin kulakukan bersamamu..
Ayah, izinkan putrimu memiliki kenangan indah saat bersamamu.
Ayah harus sembuh, ayah harus sehat lagi seperti sedia kala. Sehat layaknya ketika kita berpisah 8 tahun yang lalu..

Mama

Terima kasih banyak atas perjuangannya..
Terima kasih banyak atas pengorbanannya..
Terima kasih untuk segala pelajaran hidupnya..
Meskipun aku selalu jadi putrimu yang sering mengabaikan panggilanmu, yg sering melanggar aturanmu, yg sering membantah perintahmu, yg paling ceroboh dan merepotkan orang rumah, aku minta maaf dengan setulus-tulusnya mama..

Aku menyayangimu selalu, mama...


Ramadhan..
Di tahun ini, sepertinya aku merasa berbeda..
Di tahun ini aku hidup bagaikan mati
Karena memang ada banyak sekali hal-hal yang telah berubah..
dan sekarang, izinkan aku membahas mengenai judul diatas, ya, RUMAH..

Untuk kalian para pembaca, apa yang akan terlintas pertama kali ketika ada yg menyebutkan tentang rumah?
Apakah bayangan bahagia? Ataukah sebaliknya?
Apakah terlintas tentang rasa aman dan nyaman? Atau malah jauh dari itu?

rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu

Apakah definisi rumah seperti yang wikipedia katakan sama dengan kenyataan?

Dalam suatu kajian yang pernah saya ikuti, saya memahami bahwasanya umat islam baiknya menjadikan rumah sebagai surga kecil di dunia.. Rumah dalam pandangan al-Qur’an bukan hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tempat beristirhat atau tempat berlindung. Tetapi lebih jauh, rumah berfungsi sebagai tempat mencari ketenangan dan kebahagian batin.
Di rumah inilah manusia membangun keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah yaitu tatanan keluarga yang membawa kebahagian dan ketenangan hati serta selalu mengharapkan keberkahan dariNya..
Apakah konsep rumah yang dalam agamaku jelaskan sudah terwujud untuk kalian?

Kalau boleh jujur, rumahku tidak seperti itu..
Meskipun aku percaya prinsip "rumahku surgaku", tapi nyatanya, itu hanyalah mimpi untukku.
Maka beruntunglah kalian yang mendapatkan bayangan bahagia mengenai rumah, mendapatkan rasa aman, nyaman dan tenteram ketika berada didalamnya..
Sekarang aku memutuskan untuk menghentikan semua mimpi-mimpiku tentang rumah..
tentang surga kecil yang sungguh-sungguh aku dambakan sejak kecil..
Aku tidak akan berharap lebih lagi tentang arti keluarga..
Aku tidak akan merengek lagi, aku tidak akan menuntut apapun dari apa yang telah aku miliki, aku selesai..


Baiklah
Jika memang mau memperjelas tembok pembatas ini, maka aku akan membangun milikku..
Jika memang mau tenggelam pada dunianya sendiri, maka aku tak akan mengganggu
Jika dianggap semuanya selesai hanya dengan diam, maka aku akan mengikuti cara yg ada


Mungkin
Seharusnya dari awal aku tidak merangkai mimpi,
membangun ulang puing-puing harapan supaya aku percaya bahwa aku dapat menggapainya..
Seharusnya dari awal aku tidak boleh berharap lebih pada sesuatu,
Seharusnya dari awal aku hanya boleh menjalankan apa yang orangtuaku inginkan tanpa perlu melihat kebahagiaanku sendiri..
Apakah seharusnya dari awal aku tidak perlu ada di dunia ini?

Dan terakhir, sebagai penutup dari postingan kali ini, 


Selamat berpuasa para pembaca semua!
Semoga Allah selalu melimpahkan lindungan dan keberkahannya untuk kita..
Mohon maaf bila postingan saya kebanyakan hanyalah ungkapan hati pribadi..
Terimakasih banyak atas waktu dan kesediaan kalian mampir dan membaca blog ini

Salam dari penulis kompulsif yang penuh kasih sayang,
Ratri Rahayu Athamukhaliddinar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...