Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan menerima keadaan diri sendiri.
Katanya, aku harus berdamai dengan keadaan.
Tapi jika kenyataan begitu kejam dan aku ditinggalkan sendirian, aku harus bagaimana?
Kecewa
Siapa sih yang tidak pernah merasakan perasaan ini? Aku yakin semua orang pasti pernah merasakan perasaan yang sangat tidak menyenangkan ini.
Kecewa pada keluarga, saudara, teman, pasangan, kehidupan, bahkan pada diri sendiri.
Setiap kali merasa kecewa, aku harus menahan nafas dan amarah berulang-ulang supaya tidak meledak di waktu dan tempat yang salah.
Cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan tidak pernah berharap pada apapun, kecewa muncul karena realita yang tak sesuai dengan apa yang sudah diekspektasikan bukan? :)
Beberapa hari terakhir, keadaan hati semakin memburuk.
Hingga aku berada berada di fase "hidup enggan, mati tak mau"
Merasa tidak berguna dan tidak memiliki tujuan hidup.
berkali-kali ingin sekali mengakhiri hidup, tapi takut dosa yang masih menumpuk
Sampai untuk mengatakan "tolong aku, aku kehilangan arah, aku tidak punya siapa-siapa" kepada orang lain pun tak bisa (ya, karena aku tak memiliki siapapun).
Bagian paling sulit, karena terjun di dunia Psikologi, aku harus terlihat kuat bahkan saat aku sedang rapuh sehancur-hancurnya.
aku harus menebarkan energi positif sedangkan aku tak memiliki semangat untuk hidup
aku harus menolong orang lain sedangkan luka yang kualami tak mampu aku sembuhkan
Kenapa dulu masuk Psikologi?
Alasan utamanya, aku ingin bisa menyembuhkan diriku sendiri, tapi sekarang dititik ini, ingin sekali aku menertawakan atas kebodohan diriku sendiri.
Persona
Setiap malam, aku selalu memikirkan bagaimana bisa aku bertahan sampai sekarang?
Aku harus bagaimana lagi agar bisa hidup di hari esok dan terlihat baik-baik saja?
Aku memasang persona bahagia seperti apa lagi? Aku lelah..
"Yang hidupnya lebih berat dari kamu itu banyak"
"Jangan ngerasa hidupmu yang paling berat"
"Apa lagi sih yang kamu sedihin?"
"Hidupmu itu udah baik, banyak tau orang yang mau ada di posisimu"
"Udahlah, lupain aja sedihnya"
"Mungkin kamu kurang dekat sama Tuhan"
"Banyak-banyak bersyukur sana!"
Kata-kata itu selalu terlontar ketika aku mencoba cerita ke orang lain, lama-lama capek.
Akhirnya memutuskan untuk menahannya sendiri.
Ya, karena untuk apa cerita kalau selalu di-judge terlebih dahulu?
Kemudian berakhir dengan mencari pelampiasan ke hal-hal negatif yang bisa ngebuat aku lupa sementara sama ledakan emosi yang aku sendiri nggak tau gimana cara ngatasinnya.
Kata siapa orang di lingkup Psikologi pasti paham beginian? heuhu, salah besar (lagi) aku.
Iya aku tau, mungkin bisa jadi aku belum ketemu orang-orang baik yang bisa memahamiku.
Harus nyari orang-orang baik itu? Maaf untuk bisa bertahan sampai bisa tidur saja aku perlu usaha lebih..
I hate Myself
aku benci diriku yang selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu daripada memikirkan diri sendiri.
aku benci dia yang berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya meronta karena terluka
aku benci dia yang tidak pernah berani mengungkapkan emosi yang dirasakannya
aku benci dia selalu mudah menangis
dia selalu menangis untuk mengekspresikan dirinya.
menangis saat kecewa dengan penolakan
menangis saat tidak sanggup menghadapi dunia
menangis saat merindukan ayah yang tidak pernah sekalipun hadir di mimpinya
ketika sedang bahagia, sedih, marah, kecewa, rindu, takut, khawatir, kenapa hanya menangis yang bisa aku lakukan?!
Aku benci sekali melihat dia selalu kesepian,
tapi tidak pernah berani menghubungi siapa-siapa untuk berbagi cerita dengannya dengan alasan takut mengganggu orang itu.
aku benci melihat dia selalu sok kuat dan berani,
sedangkan dia ketakutan setengah mati.
Aku benci menjadi paradoks di hidupku sendiri
***
Jujur, menulis postingan ini memakan waktu yang cukup lama.
selesai satu kalimat, merasakan sesak, lalu menangis lagi.
"Menyedihkan"
mungkin adalah gambaran yang paling tepat untuk diriku saat ini.
Selamat malam :)
***
Jujur, menulis postingan ini memakan waktu yang cukup lama.
selesai satu kalimat, merasakan sesak, lalu menangis lagi.
"Menyedihkan"
mungkin adalah gambaran yang paling tepat untuk diriku saat ini.
Selamat malam :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar