Rabu, 09 Mei 2018

Terima kasih, kamu


Selamat malam semesta :)
Bagaimana kabarmu malam ini?
Aku baru saja jatuh cinta pada sebuah puisi.
Puisi tentang kopi, rindu, malam, hujan, juga mengenai senyum yang menjadi pemanis pemiliknya.

*** 
Kopi, Puisi

Ketika dua atau tiga cangkir kopi 
berkumpul untuk merayakan sepi
puisi ada ditengah-tengahnya

Di musim yang rusuh ini
Kota dan kita rentan bencana,
kamu dan aku rentan gila.
Minumlah puisi serindu sekali.

Kita ini secangkir kopi,
Kamu cangkirnya, aku kopinya,
Peminumnya adalah malam, hujan, puisi

-Joko Pinurbo-

***

Terima kasih atas puisinya..
Puisinya membuatku mengenang masa lalu
yang masih malu-malu
perkara soal rasa dan rindu

2 tahun lalu,
Masih teringat jelas di bayanganku.
2 bungkus obat batuk dan 1 strip vitamin yang kamu berikan untukku.
Mungkin bagimu terlihat biasa saja, tapi tidak denganku.
Karena saat itu sudah 2 minggu batukku tak kunjung sembuh.
Semenjak itu, aku benar-benar membanting semua egoku jika sedang berhadapan denganmu.
Menerka-nerka apa yang ada didalam hati dan fikiranmu
Dan meyakinkan diriku bahwa jika aku terus bertahan, suatu saat nanti Allah akan menjawab semua kesabaran itu
Bodoh bukan?
Ya itulah aku
Perempuan yang begitu mudahnya jatuh cinta hanya dengan gurat senyum manismu

2 tahun berlalu,
dan semuanya benar-benar berubah.

Ketika mengetahui kamu memilih untuk bersamanya, aku benar-benar terluka
tapi entah kenapa, dalam waktu yang bersamaan pun aku merasa bahagia.
karena kamu kehilangan perempuan yang mencintaimu sepenuh hatinya, nantinya kamu pasti akan menyesal.
dan aku pun diberi tamparan yang keras oleh semesta bahwa ini saatnya untuk berhenti.
tamparan yang menyadarkanku bahwa aku harus belajar mengikhlaskan apa yang ingin aku miliki, jika memang itu tidak ditakdirkan untuk menjadi milikku maka tidak akan pernah menjadi milikku

Tapi asal kamu tau,
semua rasaku kepadamu benar-benar tulus
aku hanya mencintaimu begitu saja tanpa alasan apa-apa

Kini sudah bukan kamu 
yang namanya aku sebutkan dalam doaku.
Kini bukan kamu lagi 
yang membuat jantungku berdegup kencang jika aku sedang berada didekatmu.
Kini semua tentangmu sudah benar-benar aku ikhlaskan

Terima kasih sudah menjadi objek menulis favoritku :))

Mari kita bahagia dengan jalan kita masing-masing.
-Ratri R. Athamukhaliddinar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...