Rabu, 07 Maret 2018

Ayah, aku rindu

Ini sudah 6 bulan semenjak kepergian ayah..
dan setiap hari tidak sedikitpun rasa rinduku berkurang.
hari demi hari, aku lalui dengan berbagai warna, tapi tidak lagi ada warna darimu..


Ayah,
setiap aku sedang sendiri, aku selalu terfikirkan, alasan mengapa kau dulu meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun..
aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa ayah pasti punya alasan lain..
sampai aku tau bahwa kau memutuskan untuk menjalin kehidupan baru dengan wanita lain, aku pun masih berfikir baik bahwa ayah pasti memiliki alasan lain..
tapi ternyata, setelah aku beranjak dewasa, alasan yang aku gunakan untuk meyakinkan diriku sendiri menjadi semakin hilang. aku ragu, dan aku tidak mempercayaimu.

aku menjalani hari dengan kecewa karena ayah tak pernah datang kepadaku..
hingga aku berdoa kepada Tuhan, bahwa aku ingin memiliki beberapa kenangan indah bersamamu lagi. dan rupanya, Allah mengabulkan doaku, yah :))

Ayah tau?
hidup sebagai anak yang kedua orangtuanya berpisah itu cukup berat.
aku harus mendengar tetangga kita dulu bergossip yang tidak enak mengenai keluarga kita.
aku harus menguatkan diri untuk membagi tugas bersama dengan mama dan kakak untuk menjalankan tugas yang seharusnya kau lakukan dalam keluarga, yah..
tidak jarang, ketika harus membeli galon, mengangkat galon, servis motor ke bengkel sendirian, aku berharap engkau yang membantuku melakukan semua hal itu..
belum lagi, ketika di sekolah, ada beberapa teman yang tidak mau berteman dengan orang yang terlahir dari latar belakang keluarga yang tidak sempurna.
juga beberapa anggapan orang-orang bahwa anak broken home adalah anak yang nakal dan tidak memiliki masa depan.
aku tumbuh dengan berbagai luka itu :)

hingga di saat-saat terakhir ayah pergi, aku sungguh menyesal mengapa ayah meninggalkanku sangat jauh secepat itu..
meskipun justru di akhir, ayah meninggalkan beberapa kenangan yang sangat aku benci.
ayah yang saat itu tidak mau menerima telefon dariku, karena katamu kau sedang berobat dan tidak diizinkan menerima telefon.
aku yang saat itu hanya ingin membantu kakak, untuk menyelesaikan masalah yang dimilikinya tentang pernikahannya, ternyata tidak kau berikan jawaban yang indah.
ayah lebih ingin mendengar suara kakak, dibandingkan dengan suaraku,
hatiku hancur sekali saat itu ayah. aku kecewa.
ayah yang seharusnya beristirahat total dirumah, malah pergi berobat ke tempat yang tidak jelas asal-usulnya. kenapa di sisa tenaga yang ayah miliki, tidak kau gunakan untuk menghabiskan waktu bersamaku, yah?
hingga akhir tempat pemakaman, kenapa kau tidak merundingkan tempat peristirahatan terakhirmu bersamaku? kenapa kau hanya berunding dengan istri barumu? yang umur pernikahannya saja belum ada separuh dari jumlah umurku..
aku sungguh menyesali itu semua, aku marah, kenapa kau tak pernah melibatkan aku dalam hidupmu?

Tapi ayah,
walaupun dengan berbagai kenangan menyesakkan di akhir hidupmu,
aku sungguh tidak rela jika ada yang menjelek-jelekkanmu didepanku.
aku akan membela  bahwa ayah adalah orang baik..

Ayah lihat dari sana?
Bukankah aku adalah putrimu yang sangat menurut dengan apa yang telah kau ajarkan kepadaku?
Untuk memilih diam daripada menimbulkan masalah baru.
Untuk menjadi wanita yang tangguh dan mandiri dengan usaha sendiri.
Untuk menjadi seseorang yang selalu membantu orang lain sekuat tenaga.
Untuk menjadi lebih kuat dan menolong orang lain..
Untuk tidak menjatuhkan orang lain..
Untuk selalu menjadi orang yang sederhana dan bermanfaat bagi orang lain

Maafkan aku, jika masih sering menangis karena merindukanmu.
masih sering cengeng dan mudah terluka jika disakiti oleh orang lain..
aku perlu belajar menjadi kuat lagi dan lagi..
karena pengalamanmu dan pekerjaan yang kau lakukan dulu untuk memberikan nafkah kepada kami jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan apa yang aku rasakan saat ini..

Ayah, terima kasih banyak..
telah menjadi ayahku di dunia ini..
telah memberikanku kenangan indah yang dapat aku ingat setelah kepergianmu..
Ayah yang memberikanku banyak pelajaran hidup..


Aku mencintaimu (dan juga merindukanmu) ayah!

-Putri bungsumu-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...