Sabtu, 18 Maret 2017

Basic Line

"Setiap individu mempunyai ciri khas dan perbedaannya masing-masing. Kamu sebagai mahasiswa psikologi harus memahami perbedaan ini"
Karena itulah keunikan manusia, karena itulah serunya jadi mahasiswa psikologi, karena perbedaan itulah yang menjadi bahan pelajaran hidup untukmu..



Banyak hal yang sudah berubah..
Sungguh, bulan Maret ini memberikan pelajaran pendewasaan. tentang arti tulus, ikhlas, dan bersabar
Hidup benar layaknya roda yang berputar, kadang diatas, kadang dibawah, kadang taksanggup untuk mengayuhnya lagi, oleh karena itu Tuhan memberikan waktu manusia beristirahat dengan bersimpuh dalam sujud kepadaNya, supaya kita mempunyai energi baru untuk memulai. Memulai apa yang sedang kita istirahatkan ataupun memulai apa yang ingin kita lakukan dari bawah.

Tulus Namun Belum Ikhlas, Ikhlas Tapi Tidak Tulus

Pernyataan itu sempat dilontarkan oleh seorang teman dekat. Tidak menjadi tamparan, hanya saja terngiang selalu dalam kepalaku..
Lalu solusinya bagaimana?
Ikhtiar dulu saja. Perbanyak do'a, perbanyak sujudmu kepadaNya.
Berkali-kali hati ingin meledak atas amarah, berkali-kali pula air mata melesak keluar karena tidak tahan dengan apa yang sedang dihadapi, Malu sebenarnya. Sudah bukan saatnya marah dan kecewa atas hal-hal seperti itu, namun setiap orang memiliki surga idealnya masing-masing kan? Kamu pun tidak tahu kesulitan apa yang kuhadapi setiap harinya.


Dia tidak tidur, Dia sungguh adil. Bersabar saja. Semua akan baik pada waktunya..

Lebih Peka-lah Terhadap Lingkungan Sekitarmu

Inilah yang  menjadi tamparan untukku.
2 semester awal di perkuliahan, menyibukkan diri untuk urusan organisasi adalah hal yang sangat mengasyikkan, sungguh. tidak percaya? coba saja :)
Belajar berproses, mengenal banyak teman, menjalin relasi baru, menambah pengalaman baru, itu adalah hal-hal yang sangat mahal harganya dan tidak bisa dibayar dengan uang. 
Namun ada yang aku lupakan, aku terlalu sibuk dengan organisasi sampai lupa dengan orang terdekatku.
Keluarga, mama dan kedua kakakku, aku berangkat pagi pulang larut malam, mengerjakan tugas hingga dini hari kemudian tidur dan berangkat pagi lagi, sampai tidak sempat untuk bersenda gurau dengan mereka. Namun sebenarnya, itu terlewatkan bukan karena organisasi, akibat distorsi rasa sakit yang telah lama terpendam. Akhirnya, masa penyembuhan luka itu adalah saat masa-masa sibuk ini
Teman Sejawat (re: teman dekat di kelas), aku hanya bersama mereka saat sedang ada mata kuliah dan kerja kelompok. Sisanya? Aku langsung cus buat rapat dan latihan. Sering iri lihat media sosial teman-teman lagi nongkrong atau sekedar makan bareng."Aku juga pengen ikutan", batinku.
Keluarga, Ayah dan istrinya. Sejujurnya masih adaptasi, karena sejak dulu nggak pernah komunikasi dengan beliau. 
Dan yang menjadi tamparan adalah, ternyata teman sejawat nggak serukun yang aku lihat. ternyata ada masalah yang aku nggak tau, ternyata dalam lingkup kecil aja aku gagal peka sama sifat dan karakter mereka..
Kedua, ternyata ayah sakit parah. dan disitu aku ngerasa bersalah karena pernah menganggap beliau udah nggak ada :'

Kenyataannya, ketika berusaha menyembuhkan luka lama, sebaik apapun perawatannya, sejauh manapun melupakannya, luka baru pasti akan tergores.
Syukurlah, setidaknya saat ini aku sudah menyadari, untuk lebih peka lagi dengan lingkungan sekitar. Kalau lingkungan sekitar saja tidak peka, bagaimana dengan yang lingkup yang lebih besar lagi?

Basic Line yang Sering Disalah Artikan 

Waktu ikut seminar microekspresi dan body language, pembicaranya mengatakan "Kita bisa belajar macroekspresi, microekspresi, masking, persona, tapi harus lihat dulu basic line orang tersebut seperti apa" Jangan-jangan memang dasarnya orang itu wajahnya seperti orang marah tapi kita salah artikan.
Keinget juga materi Psikologi Lintas Budaya, Budaya mempengaruhi persepsi manusia, yak betul sekali. Manusia juga tergantung budaya tempat dia tinggal.
Sebel sih, biasanya aku ngomong biasa tapi sering dianggep emosi.
Basicnya ngomong cepet dibilang gupuhan.
Basicnya ceroboh dibilang gagal fokus..
Katanya kita disuruh jadi diri kita sendiri, trus kalau udah gini aku harus gimana?



Pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak berharap pada siapapun selain kepada-Nya
Tidak berharap pada sesama manusia, karena ketika sudah berharap dan kenyataannya tidak sesuai harapanmu, hatimu pasti akan kecewa. 
Ada yang bilang peduli, tapi nyatanya dia juga pergi
Ada yang bilang sayang, tapi ternyata dia hilang setelah datang memberi angan
Ada yang bilang untuk percaya, tapi ternyata dia juga meninggalkan luka

What You Get is What You Give
Tidak apa-apa kamu menjudge saya ini itu..
Tidak apa-apa kamu tidak menyukai cara saya..
Tidak apa-apa kamu menganggap saya palsu..
Tidak apa-apa jika kamu mengira saya hina dan jahat..
Seperti yang kamu katakan, Karma is Real
Allah Maha Tau, Allah Maha Besar :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...