Minggu, 12 Februari 2017

Sadness in February

Selamat datang bulan baru, bulan Februari..
Eh, udah nggak baru lagi sih, ini udah menginjak hari ke-12..



Disini penulis lagi dalam keadaan hati yang sangat galau, gundah, gulana, gelisah (duh apaan sih ini disebutin semua -_- ) intinya gitu lah pokoknya.
Dari akhir Januari lalu sebenernya, ini tangan udah gatel banget pengen nulis, tapi ternyata mood buruk lebih mengalahkan segalanya. Kalau diibaratin, hari-hari sekarang ini adalah keadaan paling terpuruknya aku. Ini lebih parah ketimbang 9 tahun lalu, waktu mama sama ayah pisah, lebih buruk daripada sekedar patah hati yang beberapa bulan lalu baru saja aku alami.

"The powerfull scream is silence"

Balada Lamaran Pertama, si Anak Tengah

Perjalanan persiapan acara yang sebenernya sederhana ini luar biasa buanget buat aku. Kenapa?
Pertama, acara ini adalah pertama kalinya di keluargaku yang terdiri dari Mama, Kakak Pertama, Kakak Kedua, dan Penulis sendiri. Kondisinya adalah aku dan anggota keluargaku nggak pernah datang di acara lamaran orang. Dulu di acaranya sepupu (anaknya budhe), mama nggak bisa datang, walhasil kita bener-bener gak tau apa aja yang harus dipersiapkan. Kita berpatokan dari acara temennya kakakku yang punya acara itu.
Kedua, keluarganya penulis adalah broken home, akibatnya mama dan kakak pertama hubungannya dengan Ayah itu nggak baik. Mama nggak ngebolehin ayah ngajak istri barunya, sedangkan ayah sedang dalam kondisi sakit yang pada jam-jam tertentu harus minum obat dan suntik insulin. Tapi yasudahlah, toh yg punya acara menyetujui aturan ini. Jadi aku yang dapet amanah buat nyiapin obat-obatnya dan nyuntik insulin ke Ayah, alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Trus aku juga dikasih tugas untuk ngejemput dan nganterin ayah pulang. Fyi, rumahku di Wage, Sidoarjo, sedangkan rumah ayah di Bulak Banteng, Kenjeran. Jaraknya sekitar 30 km. Bisa ngebayangin jauhnya? Hahaha, baiknya sih jangan, capek sendiri nanti.
Ketiga, misskom dimana-mana. Banyak ego yang bener-bener gak bisa kalah. Dan aku kalau ikut-ikutan ninggiin ego, pastilah makin kacau. Baiknya sih masalah ego nggak dibahas disini karena media sosial ini terlalu luas. hehe. Intinya, semenjak acara ini semuanya banyak yang berubah, banyak yang harus diubah, karena emang nggak bisa dipertahankan lagi.
Keempat, aku bener-bener kehilangan arti "keluarga" yang masih aku harapkan selama ini.

Yang Pertama Selalu Bersinar

1. Mengapa saya menyibukkan diri dengan banyak kegiatan?
2. Mengapa saya mengungkapkan semuanya dalam tulisan?
3. Mengapa saya memilih diam?
4. Mengapa pada akhirnya saya memilih untuk mengikhlaskan?

ini fakta, bahwa yang pertama memang selalu bersinar. Anak pertama, peringkat pertama, pendidikan pertama, pengalaman pertama, semuanya diutamakan.
Dulu waktu kecil, sudah sering banget ngerasa ketidak adilan ini, seiring berjalannya waktu, aku menganggap mungkin dulu karena masih iri dan kurang dewasa. Tapi nyatanya sejauh ini, perasaan itu bukan cuma rasa iri hati aja, ternyata itu beneran. Walaupun seperti itu, aku nggak pernah protes kok, sampai akhirnya setiap kali perasaan itu muncul cuma mbatin "yaudah lah ya, percuma juga protes, toh nggak ada yang berubah".
Dan apa efeknya?
Efeknya adalah aku nggak akur sama si sulung sejak SMP (sekitar tahun 2009). Masih teringat banget, dulu aku pernah berantem sama dia sekitar 2 bulan. Nggak sapa-sapaan, nggak ngomong, nggak mau berhubungan sama dia, ibaratnya kayak anjing sama kucing gitu wkwk. Trus mungkin mama sebel kali ya lihat anak-anaknya ada yg nggak akur, yaudah akhirnya disuruh baikan. Sejak itu, aku nggak pernah mau berhubungan deket lagi sama si sulung.
Normalnya, seorang kakak dan adik akan sering ngobrol, komunikasi, belajar bersama, bercanda, tapi aku nggak pernah ngelakuin itu semua sama si sulung. Pokoknya di mindsetku, si sulung itu jahat. Kakak tengah pernah ngasih saran "Dek gitu-gitu dia juga kakakmu. Kamu nggak boleh sejahat itu sama dia". Kalau nggak salah waktu itu aku jawab "Sorry ya, aku nggak bisa pura-pura baik sama orang, Kalau jahat ya jahat aja. Percuma baik tapi palsu.". Setelah aku jawab gitu, kakak tengah udah nggak ngomong apa-apa lagi. Soalnya percuma aku nggak akan ndengerin hihi.
Di agama yg penulis anut (Islam) memang ada ayat atau hadits (entah aku lupa) yang mengatakan bahwa kita tidak boleh sampai tidak bersapa dengan saudara, apalagi saudara kandung sendiri. Tapi gimana lagi? Seandainya kamu berada di posisiku aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama.
Kenapa aku bilang gitu? Iya, soalnya si tengah yang dulu nyaranin buat nggak berperilaku seperti itu pun sekarang udah ngerasain apa yang aku rasakan beberapa tahun lalu. Dan aku cuma bisa ketawa sambil bilang "perasaan itu udah aku alami duluan, siapa dulu yang bilang nggak boleh kayak gini? wkwk"
Eits, tapi ini nggak baik ! Jangan pernah niruin sifat buruk penulis yang satu ini. Jangan sampe deh nggak akur sama saudara sendiri!

Ketika Rumah Sudah Tidak Terasa Rumah Lagi

Sebagai anak broken home, sudah jelas, rumah bukanlah tempat yang nyaman untuk berlindung dan aman untuk berlabuh. Sejak malam tanggal 24 Januari 2008, aku memang nggak pernah berharap lebih dari mereka. Nggak pernah minta yang aneh-aneh, bahkan cuma bisa diem lihat perang dingin yang berlangsung lebih dari setahun lebih itu.
Stop! Ini air mata udah berada di ujung mata nih, jadi kayaknya nggak usah di terusin deh pembahasan rumah.
Intinya, sejak datang bulan Februari ini aku berusaha kabur. Berusaha nggak di rumah dan berusaha melupakan segala kesakitan tentang rumah itu diluar. Syukurlah, semesta benar-benar mendukung.
Tgl 2 ngajakin temen ngopi, dan pas di warkop itu diajakin main kartu dan aku banyak menangnya :D makasih banyaak mas-mas dan mbak yang mau ngopi sama aku malem itu :)
Tanggal 3 keluar sama kakak tengah, berjam-jam dijalan kejebak macet.  Jam 12 malem baru sampe rumah Sidoarjo, jam setengah 7 pagi balik ke rumah Surabaya. Sampe rumah langsung ambil baju ganti sama peralatan mandi, then langsung cuss ke ->
Tgl 4-5 ikut acara organisasi bakti sosial di Madura. (Ps: maafkan ratri buat yang mbarengin ke Madura, maaf banget ngaret, maaf bikin kamu badmood. Iya aku tau kok kamu badmood meskipun kamu nggak bilang, inget aku anak psikologi jadi tau lah wajah-wajah dan gesture orang lagi BT itu gimana. Maaf selalu ngerepotin, suer di jalan itu aku pengen nangis saking ngerasa bersalahnya. Sudah kok, aku nggak akan ngerepotin kamu lagi :")
Tgl 6-7 main sama temen, temen yang super gokil, super kocak, dan selama berjam-jam main aku selalu ngakak karena tingkahnya dia. suwun banget ya :)) 2 hari itu juga main kerumah temen yang selama ini aku bilang jauh di surabaya barat, ternyata nggak sejauh itu dan aku betah banget dirumahmu kak wkwk
Udah ah nggak diceritain semua, nanti kalian bosen bacanya hehe..

Jadi LTC nggak nih?

Lah, kok tiba-tiba meloncat ke judul ini ya? wkwk
Mungkin ada yang bertanya, LTC itu apa? jadi LTC adalah singkatan dari Leadership Training Course. LTC adalah puncak kaderisasi di salah satu organisasi yang aku ikuti, dan tahun ini aku diamanahi jadi ketua pelaksana. Tapi masalahnya, kali ini semesta bener-bener nggak mendukung prosesku disini. Banyak cobaannya, banyak godaannya, banyak masalahnya, dan ini salah satu yg ngebikin aku ngedown juga. Padahal ini sudah ngurangin baper, sudah nggak meduliin omongan orang diluar sana, sudah ngalah terus, sudah mengesampingkan perasaan pribadi. Tapi tetap terlintas kalimat diatas "Jadi LTC nggak nih?'. Kalau panitianya kayak gini terus aku bisa-bisa pundung beneran lho :( Mana dulu janji kalian yang katanya mau membantu aku? Hoax?
"Semangat. Ayo cari kebahagiaan masing-masing setelah ini selesai", M, Mahasiswi salah satu PTS di Surabaya. Kuy lah. Fake Smile terus itu capek kan kak? yes, we know that feeling so much :)


Dari sekian panjang tulisan yang udah aku tulis diatas. Alhamdulillah ngebuat aku sedikit lebih lega sih. Meskipun nggak bisa bohong juga kalau sebenernya aku butuh temen buat menceritakan segala hal yang nggak bisa aku tuliskan di blog pribadi ini. Tapi yasudahlah, semua akan baik pada waktunya, right?

Ditulis ditengah rintik hujan,
Malam, 12 Feb 17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...