Senin, 20 Februari 2017

Bungsu

Selamat Malam!
Pukul 23.00 di malam tanggal 20 Februari. Hari ini ngepost tulisan lama yang baru inget untuk dipublish. Ini dibuat bulan Oktober lalu, tapi setelah aku baca ulang, ternyata sampai sekarang masih cocok sama keadaan.
Selamat membaca, maaf, ini hanyalah curhatan receh.


Mimo, aku kecewa

Fungsi keluarga yang seharusnya bisa menjadi teman berbagi ketika sedang bahagia ataupun memiliki masalah dan sahabat yang paling baik di dunia sudah aku hapus dari ingatan.
Aku telah kehilangan rasa cinta, kasih dan rinduku akan rumah.
Hari-hari terakhir semakin menyakitkan, semakin kosong, semakin hampa, dan semakin tak memiliki arti apa-apa

Menyibukkan diri diluar untuk mencari kebahagiaan yang tidak bisa didapatkan dirumah

Sayangnya, orang rumah tidak pernah memandangnya seperti itu. Di mata mereka, aku hanya semangat jika akan melakukan rapat atau kegiatan lainnya. Sedangkan aku mengabaikan tugasku dirumah seperti mencuci baju, merapikan kamar, dan lainnya. Padahal aku tidak mengabaikannya. Aku pasti melakukan, hanya saja tidak bisa serutin perintah mama. Kita berbeda cara, berbeda pemikiran.
Tapi ungkapan “yang selalu ada akan dikalahkan oleh yang istimewa” itu memang benar adanya. Dan itulah aturan rumah ini.

-Yang selalu ‘ada’, akan dikalahkan oleh yang ‘istimewa’
Yang ‘peduli’, akan dikalahkan oleh yang ‘berarti’
Yang ‘apa adanya’, akan dikalahkan oleh yang ‘ada apanya’-

Iya, terkadang hidup selucu itu…


Rasanya menyakitkan sekali

Aku berusaha mencari kebahagiaanku sendiri, aku berusaha bahagia dengan caraku, aku lelah mengemis perhatian kepada mereka. Tapi bukannya didukung, yang ada aku malah disalahkan. Aku dianggap berbeda ketika sedang berada dirumah dengan diluar.
Apakah ikan baru dianggap hebat ketika ia bisa terbang?
Apakah burung dianggap pintar ketika ia bisa berenang?
Apakah aku harus menjadi ikan yang belajar terbang?
Kemudian secara perlahan aku akan mati dengan sendirinya karena tidak bisa beradaptasi.
Apakah harus menjadi burung yang belajar berenang?
Kemudian secara perlahan aku akan mati tenggelam dalam hamparan lautan.
Apakah untuk menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain harus menyakiti seseorang terlebih dahulu?
Apakah untuk bisa membantu orang lain harus ada yang terluka terlebih dahulu?

Bagaimana?

Aku tak pernah percaya diri didepan umum, bagaimana aku bisa percaya pada diriku sendiri sementara dipuji saja aku tidak pernah
Aku sering merasa bahwa aku tak ada gunanya hidup, bagaimana aku bisa merasa berguna sementara apapun yang aku kerjakan selalu salah
Aku tak pernah tau siapa diriku sebenarnya, bagaimana aku bisa tau sementara untuk bercerita dan berkeluh kesah saja tak ada yang mendengarkan
Aku tak pernah bisa melakukan yang terbaik, bagaimana aku bisa melakukan hal tersebut sementara ketika aku melakukan hal yang baik selalu saja dibandingkan dengan hal lainnya
Aku sudah berusaha sebaik mungkin
Hanya saja cara yang aku gunakan tak seperti yang diinginkan mereka.
Salahkah jika aku menjadi yang berbeda?
Tidak bisakah mereka mengerti dan memandangku dari sudut pandang yang lainnya?
Jikalau definisi anak baik menurut mereka tidak dirubah, maka selamanya aku akan gagal menjadi anak baik.
Selamanya aku akan salah.

Salam,
dari si bungsu
Semoga ini menjadi pendewasaanku agar semakin baik.
-RRA-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...