Jumat, 18 Januari 2019

10 years

Selamat malam semesta! 😄
Kalau tulisan ini ada di hadapan kamu,  berarti aku berhasil mengalahkan rasa malas untuk nulis di blog ini, yeayy.


Salah satu resolusi 2019-ku adalah mengganti nama blog dan mengganti konsep tulisannya, tapi saat ini sepertinya baru bisa memenuhi salah satunya, yaitu ganti nama. Kenapa harus ganti nama?
Mungkin bagi yg mem-follow akun instagramku (@ratrirat) akan tau kalau aku selalu meletakkan alamat blog di bio-ku. Setelah 2 tahun menggunakan nama "Catatan Abstrak Ratri", akhirnya di tahun 2019, aku memutuskan untuk menggantinya menjadi seperti sekarang, "Langit Jingga di Laut Biru"

"Duh kok alamatnya jadi sok puitis gitu?" wkwk, nggak apa-apa lah, kan blog-ku sendiri :p

"Ganti nama lagi, habis patah hati?" Nggak dong! Masa perubahan harus karena patah hati? XD

"Blognya mau ganti konsep gimana?" yang jelas bukan cuma curhatan doang. Selama ini isinya hanya begitu aja kan soalnya hehehe.

"Kenapa ganti warna dan nama itu?" karena lagi proses mencari jati diri, untuk aku dan juga blog ini :))

***

#10yearschallenge 

tagar itu sekarang lagi hits banget di media sosial. challenge untuk menunjukkan keadaan yg sekarang dengan 10 tahun yang lalu, yaitu tahun 2009. aku juga sempat 'ikut-ikutan' dong hehehe. tapi ya gimanapun juga, semakin waktu berjalan, akan selalu ada banyak hal yang berubah. jangankan 10 tahun, hitungan menit saja bisa ada banyak hal yang terjadi tanpa kita duga.

dengan maraknya tagar tersebut, tidak sedikit juga orang sekitar yang mengingatkan kondisi saudara-saudara di Palestina dan Suriah pun dalam waktu 10 tahun sangat berubah drastis. bukan aku tidak memiliki hati nurani karena ikut-ikutan challenge yg tidak ada faedahnya itu, tetapi ternyata setelah aku mencari-cari foto di masa lalu, membuatku mengingat dan mensyukuri banyak hal.

-Throwback 10 tahun lalu-

Banyak hal terjadi di 2009, tahun yang sangat terpuruk sekali, Orangtua habis bertengkar hebat, mereka saling perang dingin selama 1,5 tahun, aku tidak punya teman, tidak memiliki kemampuan apa-apa, kalau nggak belajar bakal dimarahin dan dicubit sama Mama, saat itu benar-benar nggak ada bayangan sama sekali kedepannya mau jadi apa. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 6 SD. Di Bulan Maret (atau April ya? aku lupa) akan ada Ujian Nasional *pada saat itu namanya UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Cita-cita saat itu adalah ingin menjadi dokter

Tahun 2009 juga, ayah meninggalkan aku, tanpa sepatah kata, tanpa perpisahan.
di tahun itu kedua orangtuaku memutuskan untuk berpisah, berhenti untuk hidup bersama, menunjukkan ke aku bahwa rumah tangga yang mereka bangun tidak bisa dipertahankan lagi. menjelek-jelekkan satu sama lain. Dan mulai dari situ aku tahu, bahwa perpisahan itu menyakitkan. Hati terluka, tapi tak ada yang bisa mengobatinya selain diri sendiri.

---

10 tahun berlalu merupakan proses yang tidak sebentar.
Bisa ada sampai di posisi saat ini, merupakan kebaikan Tuhan-Ku kepadaku.
Terima kasih banyak untuk orang-orang yang hadir mewarnai hampir 22 tahun hidupku..

Sekarang banyak (sekali) hal yang sudah berubah,
dimulai dari kemajuan Teknologi yang sekarang semakin luar biasa.
Aku yg sudah duduk di mahasiswa tingkat akhir yang sedang fokus mengerjakan skripsi di salah satu Universitas Negeri yang ada di Surabaya
Ayah yang sudah pergi selamanya untuk dipanggil ke sisi Allah SWT
dan keluargaku yang sudah memiliki kehidupannya masing-masing.

-Sebuah Pesan untukku di masa lalu hingga saat ini-
*selftalk*

Terima kasih banyak, Ratri.
Masih bertahan sampai sejauh ini.
Terima kasih banyak atas segala ketabahan hatimu.
Terima kasih sudah berjuang atas segala keluh, lelah, dan luka yang tak pernah bisa kamu ungkapkan kepada orang lain.
Terima kasih sudah menahan semuanya dengan baik..
Tidak mudah melewati itu semua, aku tau.
Aku melihatmu setiap hari menghadapi banyak hal.
Kamu selalu melakukannya sampai batas maksimal
Kamu selalu memaksa dirimu sampai titik akhir

Aku tau, tidak jarang ketika kamu tidak sanggup menahan semuanya, kamu akan berakhir menangis merutuki dirimu sendiri.
Ketika kamu tidak mampu menahan permasalahanmu, kamu akan lari ke kamar mandi dan menangis didalam sana.
Bahkan tidak jarang kamu bersembunyi didalam lemari hanya karena tidak ingin tangismu didengar atau dilihat orang lain.

Sesekali, jujur jika kamu sedang tidak baik-baik saja itu tidak salah!
Jangan memaksakan dirimu agar orang lain harus menyukaimu.
Ketika merasa tidak ada gunanya di dunia, kamu perlu percaya bahwa dari sekian banyak manusia yang Allah ciptakan, pasti ada yang membutuhkan kehadiranmu.
Ketika merasa bahwa dunia tidak ada yang mendukung atau membantumu, ingat bahwa Tuhan-Mu selalu menjagamu dengan baik.

Banyak orang-orang diluar sana yang ingin berada di posisimu saat ini, tapi mereka tidak seberuntung dirimu.
Kamu telah melakukannya dengan sangat baik!
Tetap lakukan yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum bertemu dengan orang lain

Salam Hangat,
Ratri R. Athamukhaliddinar.

3 komentar:

  1. Kamu lahir untuk memberi banyak arti di kehidupan orang lain. Dan terima kasih, sudah memberi arti untuk hidupku!:33

    BalasHapus

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...