Minggu, 10 Maret 2019

Langkah

Aku tiba pada suatu titik.
Titik yang menyadarkanku akan banyak hal
Aku terdiam,
Sanggupkah aku melanjutkan ini semua?
Bahkan aku tak mengerti kemana aku harus melangkah...

Malam ini adalah malam yang kesekian kalinya aku tidak dapat tidur.
banyak hal yang sedang berputar di kepalaku, banyak sekali.
tentang langkah, arah, perjalanan, dan akhir dari cerita

pernahkah kamu merasa bahwa di dunia ini kamu adalah manusia yang paling menyedihkan?
pernahkah kamu merasa sebagai yang paling tersakiti?
lalu apa yang kamu lakukan?

akhir-akhir ini hal tersebut sedang mengusikku.

"Pernahkah kamu menginginkan sesuatu yang teramat sederhana bagi orang lain namun berat bagimu? cobalah tutup matamu sejenak dan bayangkan kondisi sekelilingmu.  Berapa banyak orang yang terbantu karena adanya kamu? berapa banyak orang yang sebenarnya menginginkan untuk ada di posisimu? cobalah berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat yang kamu miliki saat ini. sungguh, banyak sekali nikmat Tuhan yang diberikan kepadamu. sungguh. cobalah untuk mensyukurinya!

- Mengapa saya menyibukkan diri dengan banyak kegiatan?
Karena saya merasa diri saya dapat berguna untuk orang lain. Saya merasa ada. Saya merasa hidup. Saya merasa dihargai. Ketika semua kegiatan itu menguras tenaga, fikiran dan waktu, itu dapat menghilangkan semua rasa kesedihan saya. Meskipun tidak sekali, pasti akan ada perasaan hampa didalam itu semua. Tidak sekali, batin saya berteriak menolak keadaan yang saya hadapi. Namun kesibukan itulah yang membuat saya banyak melupakan beban terpendam yang saya miliki.

- Mengapa saya mengungkapkan semuanya dalam tulisan?
Karena ketika menulis saya bebas. Saya tidak menjadi palsu. Saya menjadi diri saya sendiri. Saya mencurahkan segala fikiran saya dengan lega, tanpa ada yang mengetahui prosesnya. Apakah dengan senyuman, dengan tawa, atau malah dengan air mata. Tulisan dapat menunjukkan diri saya yang sesungguhnya. Karena tidak semua orang diberkati kemampuan komunikasi yang baik dengan orang lain, oleh karena itu, saya menulis!

- Mengapa saya memilih diam?
Sebenarnya bukan diam, saya hanya membiarkan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Bukankah seharusnya begitu? Ketika saya berencana, namun Allah lah sang perencana terbaik.

- Mengapa pada akhirnya memilih untuk mengikhlaskan?
Karena saya sadar, saya bisa apa? saya ini bukan siapa-siapa tanpa bantuan Tuhan dan orang lain. Bukankah diatas langit masih ada langit? Jadi mengapa harus memaksakan keadaan yang memang tidak bisa terjadi? Bukankah Allah juga telah menjanjikan segala kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan pasti mendapat balasannya kelak?"

seseorang pernah mengatakan ini:
"Kalau aku memilih depresi, aku sudah hancur sejak dulu
setelah melihat kedurhakaan, kekerasan, kehilangan, pengkhianatan, dan banyak hal menyedihkan lainnya..
tapi aku memilih untuk melupakan, mengikhlaskan, mensyukuri apa yang aku punya, nggak menyesali apa yang aku nggak punya, dan berbahagia atas hidup :)"

sebuah tamparan untukku yang juga merasakan hal-hal tersebut di masa lalu,

pertama, kita bukanlah yang paling menyedihkan. terkadang apa yang sangat kita benci adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain. aku rasa, diantara milyaran manusia di bumi, pasti ada 1 orang yang mau mendengarkan keluh kesahmu dan apa yg sedang kamu rasakan dengan ikhlas. kalau belum ketemu, ya cari sampai ketemu! hehe

kedua, Depresi bukan pilihan!
aku yakin, tidak ada satu pun manusia yang ingin bersedih..
tidak ada yang mau merasakan stres, tidak ada yang mau memiliki masalah,
karena hakikatnya memang begitu.

seringkali kita menjustifikasi orang yang sedang memiliki beban dan dilanda depresi adalah orang yang jauh dari Tuhan, yang tidak beriman, yang tidak bersyukur tanpa kita introspeksi diri, apakah kita sebagai teman sudah melaksanakan tugas kita dengan baik?
Tidak ada orang yang ingin depresi, semuanya pasti ingin berbahagia dengan cara mereka masing-masing."

-Time will pass-

pernah sadar nggak sih? semakin bertambah usia, masalah yang ada di hidup kita itu semakin bertambah. ibaratnya ujian kita itu semakin hari, semakin naik level.
waktu kecil, mungkin masalah yang paling sering dihadapi adalah kita yang malas makan, kemudian jika sudah lelah ibu yang akan marah-marah dan memaksa kita untuk harus makan
bertambah dewasa, mulai banyak hal-hal yang kita sukai bertentangan dengan keinginan orang tua.
nilai ujian atau tugas sekolah yang tidak sesuai harapan, barang-barang yang diletakkan sembarangan, perbedaan pendapat baik perkara sepele ataupun yang sangat penting.
semakin bertambah usia, bukan hanya mengenai masalah pribadi, masalah asmara mulai muncul, pendidikan, karir, kesehatan, semua seringkali datang bersamaan.
tapi tolong ingat sekali lagi, bahwa itu adalah ujian untuk naik levelmu!
menjadi orang dengan versi yang lebih baik lagi, bukankah itu mengagumkan?

-You are amazing, just the way you are-

kemarin aku sempat sharing sama temen deketku. tentang keresahan karena beberapa hal, salah satunya, karena tertinggal dalam hal pendidikan dengan teman-teman yang lain.
lalu temanku bilang:
"Semua sudah punya mangkoknya masing-masing,
semua perjalanan akan menemukan titik,
semua benih yang sudah ditanam akan tumbuh dan dituai."

nggak perlu khawatir kalau kamu berbeda, semua sudah punya jalannya masing-masing.
di usia sekitar 20an ini, memang kebanyakan orang selalu dihantui oleh "Quarter Life Crisis".

Pikiran mengenai masa depan yang entah akan berjalan ke arah mana.
Apa yang akan terjadi pada diri ini besok, bulan depan, tahun depan, hingga 10 tahun kedepan.
Apa yang sedang diinginkan oleh diri ini.
Jalan kehidupan mana yang harus dilalui.
Tanggung jawab mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Tentang pilihan, tentang memilih, tentang dipilih, semua akan datang disaat yang tepat.
Jangan menyerah!
Kamu luar biasa dengan apa yang kamu miliki!
Semangat terus ya untuk meraih mimpi-mimpi yang belum terselesaikan :))
Kalau belum berhasil, coba lagi.
Kalau terjatuh, bangkit lagi.
Kalau terlalu lelah, istirahat sejenak untuk berlari lebih kencang lagi.

Salam hangat,
Ratri R. Athamukhaliddinar 💓

1 komentar:

  1. Semangat mbak ratri, nanti pasti dapet kejutan dari Allah, karena Allah pengatur skenario terbaik.

    BalasHapus

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...