Senin, 18 September 2017

Titip Rindu

Selamat malam menjelang dini hari semesta!


Hampir pukul 3 dini hari. Sedari malam sebelumnya sudah berusaha untuk memejamkan mata untuk beristirahat dan mempersiapkan hari esok. Namun mata dan tubuh tidak bisa diajak berkompromi dengan keinginan hati.
Karena ada tugas yang belum terselesaikan pun akhirnya aku putuskan membuka laptop, tapi sebelum bermain dengan tugas, menyempatkan menyapa wahana ekspresi terbaikku.

Sudah lama sekali aku tidak menulis disinii, karena banyak hal yang terjadi baru-baru ini.
Banyak hal berubah tapi yang paling penting banyak hal yang harus disyukuri..


Bulan ini sudah dimulai jadwal perkuliahan semester 5.
semester (yang katanya) penentuan dari sepanjang perjalanan kuliah. semester yang tugasnya bikin pengen cepet-cepet nikah aja XD. semester yang isinya praktikum, penelitian, observasi, dan intinya semester yang menuntut untuk lebih diseriusin lagi daripada 4 semester sebelumnya.
dimulai sejak tanggal 4 kemarin.

Namun sayangnya, kenyataan benar-benar jauh dari harapanku.
di hari pertama kuliah, aku mendapatkan musibah yang menyakitkan sekali.
Ayahku pergi untuk selama-lamanya,
ayahku tidur lelap dan tidak bisa bangun kembali,
ayahku telah beristirahat dengan sangat tenang..

***

Ayah.
Dapatkah ayah lihat dari sana?
Putrimu yang dulu kau tinggalkan sudah menjadi sebesar ini..
Putri bungsumu bukan lagi anak manja yang selalu kau antarkan kesana kemari seperti saat kecil dulu..
Ia telah menjadi perempuan tangguh dan mandiri..

Ayah,
masih terasa sangat berat untukku,
rasanya masih baru kemarin aku berada dibelakang boncenganmu, kau antarkan dan kau belikan aku untuk membeli buku-buku penunjang kuliahku.
rasanya masih baru kemarin aku makan siang bersamamu di warung yang dekat dengan kantormu bekerja.
rasanya masih baru kemarin aku ikut ke desa asalmu, bercanda gurau dalam mobil menghilangkan kecanggungan yang tercipta karena jarak yang tercipta akibat perpisahan itu.
rasanya masih baru kemarin aku mendengar suaramu lewat telefon, engkau menanyakan kenapa aku tak pernah memberi kabar, engkau menanyakan kenapa aku tidak pernah menelefonmu. maafkan aku ayah.. karena terlalu sibuk dengan urusan yang lain, sehingga sering lupa menghubungimu.
rasanya masih baru kemarin aku membanggakan nilai dan IPK-ku, yang sebenarnya aku tidak sepintar itu dan tidak pernah mengutamakan nilai, tapi ayah selalu membanggakan nilai-nilaiku bukan? maafkan aku ayah, yang sering malu-malu ketika kau banggakan. tapi ternyata pujian itu justru adalah kenangan bahagia bersamamu yang aku miliki. kalau ayah pergi secepat ini, siapa yang akan aku pamerkan nilai-nilai hasil perjuangan kuliahku? nanti saat aku wisuda, aku ingin memiliki foto bersamamu lagi. aku ingin menunjukkan banyak hal mengenai kemampuanku, tapi kenapa... :(
rasanya masih baru kemarin aku mencium tanganmu yang semakin hari semakin kurus, karena penyakit yang menggerogoti gagahnya tubuh ayah.
rasanya masih baru kemarin aku bolak-balik ke rumah sakit, menjagamu, menebus obat, membuatkan susu, menyuapkan bubur, menyuapkan obatmu, menanyakan ke dokter dan suster bagaimana perkembangan kesehatanmu.
rasanya masih baru kemarin engkau menghubungiku, menanyakan apa bisa kita bertemu, aku pun masih mengingat saat-saat menunggumu yang datang menemuiku di kampusku, siang itu, udara yang sangat panas, dan engkau benar-benar datang ayah..
rasanya masih baru kemarin aku berdebat denganmu mengenai prospek pekerjaan masa depan, mengenai keinginanmu agar aku masuk di jurusan Pendidikan, keinginan untuk menjadikan anak-anaknya PNS (guru, dosen, pegawai, dsb) sedangkan aku yang masih ngotot membanggakan jurusanku dan keinginanku membuka lapangan pekerjaan baru.
rasanya masih baru kemarin aku meminta Tuhan untuk memberikan aku kenangan bahagia bersamamu, dan kali ini, Tuhan mengabulkan permintaanku..
Ternyata ada begitu banyak kenangan bahagia yang masih aku simpan dengan baik sampai saat ini.

Ayah,
Apakah diatas sana menyenangkan?
Sudahkah ayah berkumpul dengan keluarga yang lain ?
Dengan mimo, bapak, mbah nyomi, dan kakak adiknya ayah yang lain?

Terima kasih ayah..
Jaga aku dari atas sana ya ayah..
Lindungi aku, dan peluklah ketika aku sedang terpuruk..
Dan semoga aku bisa menjadi putrimu yang mengantarkanmu ke dalam surga-Nya..

***


Nyatanya, efek dari broken home itu memang dahsyat.
Setiap hari aku harus bangkit dan bangkit lagi supaya tidak terus menerus terpuruk karena keadaan.
Aku harus menutupi luka-luka itu agar bisa bertahan.

-Jadi anak baik aja tidak cukup, kamu perlu jadi istimewa, memikat.
Begitulah pahitnya kehidupan-

aku hanya ingin hidup normal.
apakah salah memiliki keinginan seperti itu?
aku hanya ingin menjadi seperti perempuan usia 20 tahun yang lain..
tapi, sampai kapan aku harus mengalah seperti ini?

Namun, rencana Allah memang sungguh asik.
Dibalik semua ujian itu, tetap ada hal baik yang patut untuk disyukuri lagi dan lagi..

Tentang kamu,
Kamu yang begitu baik terhadapku..
Kamu yang selalu membuat aku merasa menjadi perempuan yang sangat berharga
Kamu yang selalu berusaha membahagiakan aku setiap harinya..
Kamu yang selalu menunjukkan perilaku seolah aku adalah satu-satunya..

Tentangmu,
yang menggenggam tanganku dikala aku bersedih.
yang menguatkanku ketika aku sedang terjatuh.
yang menjagaku dari hal-hal buruk
yang mengobatiku saat aku sedang terluka.

Terima kasih untuk segalanya..
Semoga kamu menepati janjimu, semoga kamu benar bisa menunjukkan segala yang kamu katakan dulu :))

Sincerely,
Penulis kompulsif yang penuh kasih sayang
Ratri R. Athamukhaliddinar

2 komentar:

  1. makasih mbak ratri, curhatanya bener2 berkesan. semoga Allah mengisi setiap ruang di hati mbak dgn keihklasan, yakinlah Allah tak akan membiarkan hambanya bersedih :).
    #altar'17

    lamazimartivia.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai ratna!
      terima kasih udah mampir di blogku yaa.. aamiin! semoga Allah juga selalu memberikan yang terbaik untukmu :))

      Hapus

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...