Selasa, 27 Desember 2016

Broken Home

Barangkali 2 kata itu yang sempat menghancurkan hati kami.
Kami anak-anak korban dari orang tua yang tidak bisa mempertahankan kepercayaan dan perasaan yang dulu pernah mereka ikat atas nama "Pernikahan"


Kami dianggap sebagai  anak nakal, karena kurangnya perhatian dari mereka. Tidak sekali, dua kali saja kami dipandang sebelah mata oleh orang-orang disekitar kami. Gunjingan dari sana dan sini bukanlah hal baru lagi untuk kami. Kami tidak apa-apa, justru itu menguatkan dan menambah proses kedewasaan pada kami.

Source: ig: broken_homeindo

Masa-masa yang seharusnya kami gunakan untuk menikmati berharganya sebuah pengalaman itu telah direnggut oleh sesuatu yang amat menakutkan. Kami dipaksa oleh kenyataan untuk bersabar lebih lagi, untuk dewasa sebelum waktunya, untuk mengerti apa yang anak-anak lain tidak mengerti: Tentang arti sebuah perpisahan..

Kami takut, namun tidak memiliki tempat berpegangan dari mereka. Kami tidak memiliki perlindungan yang aman dari semua kejadian yang pernah kami alami. Bukan hanya ketika mereka beradu mulut saja. Tapi akibat dari keputusan itu, kami harus menghadapi hari-hari yang semakin rumit dan menyakitkan.

Source: ig: broken_homeindo

Kurang lebihnya seperti itu, kami harus kuat. kami harus bangkit. kami harus menghadapi semua kenyataan ini. Semua bukan hanya mimpi. Rasa takut itu harus segera kami ganti dengan keteguhan menghadapi dunia nyata. 

Intinya, tolong, jangan menjudge kami dengan fikiran negatif kalian. Bukankah setiap manusia mempunyai cara bahagia dan menderita masing-masing? Saya kira, wajar untuk kami yang sering iri atas keluarga kalian yang terlihat lebih baik. Cobalah berada diposisi kami, apakah kalian masih bisa menghadapi kenyataan itu sekuat apa yang kami lakukan? :)

Untuk teman seperjuangan yang membaca tulisan ini. 
Saya paham, kita memiliki kisah yang berbeda, penderitaan yang berbeda, dan cara berbahagia yang berbeda. Tapi saya hanya ingin mengingatkan untuk selalu bersyukur terhadap apa yang telah Tuhan berikan. Percayalah selalu ada hikmah dibalik semua kejadian di alam semesta ini.
Ah iya, dan untuk para perempuan yang sedang dirundung trauma atas perceraian itu, saya sedikit berbagi alasan saya untuk bangkit:
Setelah berpisah, saya tinggal bersama ibu. Walaupun sebelumnya saya sangat dekat dengan ayah. Hari demi hari berlalu, saya melihat perjuangan ibu saya. Dia begitu hebat membesarkan ketiga putrinya sendirian. Meskipun kami dididik cukup keras dan cukup ketat dengan aturan-aturan yang dibuatnya. Lalu saya berjanji, saya akan menjadi istri terbaik untuk suami dan saya akan membuat anak-anak saya nantinya bangga pernah dilahirkan di dunia dan memiliki orang tua seperti kami.

Itulah semangat saya dalam menjalani hidup. Cukuplah saya yang mengalami kesakitan itu, orang lain jangan, terutama jangan sampai anak saya merasakan hal yang saya rasakan.

Saya pun sering berharap, semoga semua suami dari perempuan-perempuan tangguh itu berfikiran seperti tulisan dari Fahd Pahdepie,

Ketika kau mengenal seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau baru saja bertemu dengan perempuan dengan kemampuan menghadapi persoalan di atas rata-rata. Ia tumbuh dengan perjuangan untuk selalu bisa tersenyum di hadapan semua orang, berusaha tampak biasa-biasa saja, meskipun ada sesuatu yang menghantam-hantam dari dalam dirinya. Ia mungkin sering menangis, tetapi bukan untuk sesuatu yang remeh-temeh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi hal-hal sepele yang bisa ia atasi dengan cara dan usahanya sendiri. Ia menangisi sesuatu yang barangkali jika semua itu terjadi kepadamu, kau tak akan pernah bisa menahannya. Ia menangisi sebuah kehilangan. 

Apa yang hilang dari dirinya? Barangkali masa kecil dan kebahagiaan yang semestinya mewarnai semua itu. Barangkali rasa bangga yang tetiba diruntuhkan oleh ketidakadilan yang entah mengapa harus menimpa dirinya. Ia menyaksikan kehancuran rumah tangga orangtuanya pada usia yang telalu muda. Barangkali ia harus mendengarkan kekecewaan ibunya sendiri tentang ayah yang dicintainya. Barangkali ia harus menerima kenyataan bahwa cinta bukan satu-satunya syarat untuk mempertahankan semuanya. Pada saat bersamaan, ia harus menutup telinga dari pembicaraan buruk orang-orang tentang keluarganya. Ia dipaksa nasib untuk menjadi dewasa sebelum waktunya

Tetapi, kedewasaan itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia selalu punya cara untuk terlihat biasa-biasa saja di tengah hal-hal buruk yang sedang dihadapinya. Ia tetap bisa tersenyum saat orang lain terlalu lemah untuk bersikap baik-baik saja. Bayangkan, ia membangun semua sistem pertahanan dan rasa percaya diri itu selama bertahun-tahun?


Bersyukurlah sebanyak-banyaknya..
Percayalah, kalian terlahir di dunia ini menunjukkan bahwa kalianlah sperma terkuat, tercepat dan yang terpilih. Berbahagialah.
Semesta tidak sejahat itu. Semesta tercipta dari apa yang kalian fikirkan.

Be Positive Person! Stay Strong !!

3 komentar:

  1. Kenapa ceritanya seperti yg saya rasakan....

    Cerita itu seperti nyata saya yg buat, pdahal bukan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Verra!
      Maaf sekali aku baru membalas komentarmu..
      Terima kasih ya sudah mampir di blogku..

      Kita diberi ujian agar menjadi semakin kuat!
      Semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan dan segala kebaikan untukmu :))

      Hapus
  2. TETAP SEMANGATT DAN HARUS BERSYUKUR MESKIPUN DEPAN ORANG LAIN TERLIAT BAIK2 saja������

    BalasHapus

menyerah saja, boleh?

Katanya, kita harus mengakui bahwa kita tidak sanggup menghadapi dunia sendirian. Kita harus jujur dengan apa yang dikatakan oleh hati dan ...